Selasa, 03 Mei 2016

LASERASI JALAN LAHIR

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Persalinan sering kali mengakibatkan perlukaan jalan lahir. Luka – luka biasanya ringan, tetapi kadang – kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Setelah harus persalinan harus selalu dilakukan pemeriksaan vulva dan perineum. Pemeriksaan vagina dan serviks dengan spekulum perlu dilakukan setelah pembedahan pervaginam. (Prawirohardjo, Sarwono. 1994. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta)
Perdarahan dalam persalinan didefenisikan sebagai hilangnya darah sebanyak 500 ml atau lebih dari organ – organ reproduksi setelah selesainya kala II persalinan. Perdarahan dalam persalinan dibagi menjadi dua jenis, yaitu perdarahan postpartum dini yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan dan perdarahn postpartum lanjut yang terjadi selama masa nifas, atau sudah lebih dari 24 jam pasca kala III persalinan. (Maryunani, Anik dkk. 2014. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Trans Info Media. Jakarta)
Perdarahan Postpartum bukanlah suatu diagnosis akan tetapi suatu kejadian yang harus dicari kausalnya. Misalnya perdarahan postpartum karena atonia uteri, robekan jalan lahir, sisa plasenta, atau oleh karena gangguan pembekuan darah. Sifat perdarahan pada perdarahan postpartum bisa banyak, bergumpal – gumpal sampai menyebabkan syok atau terus merembes sedikit demi sedikit tanpa henti. Sebagai patokan, setelah persalinan selesai maka keadaan disebut “aman” bila kesadaran dan tanda vital ibu baik, dan tidak ada perdarahan aktif/merembes dari vagina. (Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidana Edisi Keempat. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta)

B.     RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dari latarbelakang diatas adalah sebagai berikut :
1.      Apakah yang dimaksud dengan laserasi jalan lahir?
2.      Apasajakah faktor resiko laserasi jalan lahir?
3.      Apakah etiologi laserasi jalan lahir?
4.      Bagaimana diagnosis laserasi jalan lahir?
5.      Bagaimanakah penatalaksaan laserasi jalan lahir?
6.      Apasajakah yang termasuk laserasi jalan lahir?
C.     TUJUAN
Adapun tujuan dari rumusan masalah diatas adalah sebagai berikut :
1.      Mendeskripsikan apa yang dimaksud laserasi jalan lahir
2.      Menjelaskan faktor resiko laserasi jalan lahir
3.      Menjelaskan etiologi laserasi jalan lahir
4.      Mendeskripsikan diagnosis laserasi jalan lahir
5.      Menjelaskan bagaimana penatalaksanaan laserasi jalan lahir
6.      Mendeskripsikan jenis – jenis laserasi jalan lahir

D.    MANFAAT
Adapun manfaat dari tujuan diatas adalah sebagai berikut :
1.      Bagi Penulis
Untuk pemenuhan tugas dari mata kuliah Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal Neonatal dan sebagai penambah wawasan, ilmu dan pengetahuan mengenai Laserasi Jalan Lahir.
2.      Bagi Pembaca
Sebagai penambah wawasan, ilmu dan pengetahuan mengenai Laserasi Jalan Lahir ataupun sebagai bahan belajar.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    LASERASI JALAN LAHIR
Adapun defenisi/pengertian Laserasi Jalan Lahir dari beberapa sumber buku adalah sebagi berikut :
1. Pada umumnya robekan jalan lahir terjadi pada persalinan dengan trauma. Robekan jalan lahir biasanya akibat episiotomi, robekan spontan perineum, trauma forseps atau vakum ekstraksi, atau karena versi ekstrasi. Robekan yang terjadi bisa ringan (lecet, laserasi), luka episiotomi,robekan perineum spontan derajat ringan sampai ruptur perineum totalis (sfingter ani terputus), robekan pada dinding vagina, forniks uteri, serviks, daerah sekitar klitoris dan uretra dan bahkan yang terberat ruptur uteri. Perdarahan yang terjadi saat kontraksi uterus baik, biasanya karena ada laserasi ataupun sisa plasenta. (Prawirohadjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan Edisi Keempat.  PT Bina Pustaka Sarwono Prawiirohardjo. Jakarta)
2. Robekan jalan lahir adalah trauma yang diakibatkan oleh kelahiran bayi yang terjadi pada serviks, vagina, atau perineum. (Maryunani, Anik, Puspita, Eka. 2014. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Trans Info Media. Jakarta)
3. Perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari laserasi jalan lahir. (https://bettymaharani.wordpress.com/2015/05/28/makalah-robekan-jalan-lahir/)

B.     FAKTOR RESIKO LASERASI JALAN LAHIR
a.       Faktor maternal
1.    Partus presipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong (sebab paling sering)
2.    Pasien tidak mampu berhenti mengejan
3.    Partus diselesaikan secara tergesa – gesa dengan dorongan fundus yang berlebihan
4.    Edema dan kerapuhan pada perineum
5.    Varikositas vulva yang melemahkan jaringan perineum
6.    Arcus pubis dengan pintu bawah panggul yang sempit pula sehingga menekan kepala bayi ke arah posterior
7.    Perluasan episiotomi
b.      Faktor janin
1.    Bayi yang besar
2.    Posisi kepala ynag abnormal – misalnya presentasi muka dan occipitoposterior
3.    Kelahiran bokong
4.    Ekstraksi forcep yang sukar
5.    Distosia bahu
6.    Anomali kongenital, seperti hidrocephalus
(Oxorn, Harry, R.Forte, William. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi & Fisiologi Persalinan. CV Andi Offset. Yogyakarta)

C.     ETIOLOGI LASERASI JALAN LAHIR
·      Pertolongan persalinan yang semakin manipulatif dan traumatik akan memudahkan robekan jalan lahir dan karena itu di hindarkan memimpin persalinan pada saat pembukaan serviks belum lengkap. (Maryunani, Anik, Puspita, Eka. 2014. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Trans Info Media. Jakarta)
·      Robekan/laserasi jalan lahir diakibatkan episiotomi, robekan perineum spontan, trauma forceps atau vakum ekstraksi, atau karena versi ekstraksi.
(Prawirohadjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan Edisi Keempat.  PT Bina Pustaka Sarwono Prawiirohardjo. Jakarta)

D.    DIAGNOSIS LASERASI JALAN LAHIR
·      Tanda atau gejala robekan vagina, perineum atau serviks antara lain, terjadi plasenta keluar, terdapat perdarahan namun uterus berkontraksi, pada inspeksi plasenta kotiledon plasenta lengkap. (Maryunani, Anik, Puspita, Eka. 2014. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Trans Info Media. Jakarta)
·      Laserasi dalam jalan lahir memiliki derajat tertentu :
-          Laserasi derajat I :
a.       Perlukaan terjadi pada mukosa vagina, komisura posterior dan kulit perineum. (Maryunani, Anik, Puspita, Eka. 2014. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Trans Info Media. Jakarta)
b.      Robekan derajat pertama meliputi mukosa vagina, fourchette dan kulit perineum tepat dibawahnya. (Oxorn, Harry, R.Forte, William. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi & Fisiologi Persalinan. CV Andi Offset. Yogyakarta)
c.       Perlukaannya hanya terbatas pada mukosa vagina atau kulit perineum. (Nugroho, Taufan. OBSGYN Obstetri dan Ginekologi untuk Kebidanan dan Keperawatan. 2012. Nuha Medika. Yogyakarta)
-          Laserasi derajat II :
a.       Perlukaanya terjadi pada mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum dan otot perineum. (Maryunani, Anik, Puspita, Eka. 2014. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Trans Info Media. Jakarta)
b.      Laserasi derajat kedua merupakan luka robekan yang lebih dalam. Luka ini terutama mengenai garis tengah dan melebar sampai corpus perineum. (Oxorn, Harry, R.Forte, William. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi & Fisiologi Persalinan. CV Andi Offset. Yogyakarta)
c.       Adanya perlukaan yang lebih dalam dan luas ke vagina dan perineum dengan melukai fasia serta otot – otot diafragma urogenital. (Nugroho, Taufan. OBSGYN Obstetri dan Ginekologi untuk Kebidanan dan Keperawatan. 2012. Nuha Medika. Yogyakarta)
-          Laserasi derajat III :
a.       Perlukaan terjadi pada mukosa vagina, komisura porterior, kulit perineum, otot perineum dan otot sfinter ani. (Maryunani, Anik, Puspita, Eka. 2014. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Trans Info Media. Jakarta)
b.      Robekan derajat ketiga meluas sampai corpus perineum, musculus tranversus perineus dan sphinceter recti. (Nugroho, Taufan. OBSGYN Obstetri dan Ginekologi untuk Kebidanan dan Keperawatan. 2012. Nuha Medika. Yogyakarta)
c.       Perlukaan yang meluas dan lebih dalam yang menyebabkan musculus sfinter ani eksternus terputus didepan robekan serviks. (Nugroho, Taufan. OBSGYN Obstetri dan Ginekologi untuk Kebidanan dan Keperawatan. 2012. Nuha Medika. Yogyakarta)
-          Laserasi derajat IV :
a.       Perlukaan terjadi pada mukosa vagina, komisura porterior, kulit perineum, otot perineum dan otot sfinter ani dan dinding depan rectum. (Maryunani, Anik, Puspita, Eka. 2014. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Trans Info Media. Jakarta)

E.     PENATALAKSANAAN LASERASI JALAN LAHIR
·         Rupture Perineum dan Robekan Dinding Vagina
1.      Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber perdarahan
2.      Lakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptik
3.      Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian ikat dengan benang yang dapat diserap
4.      Lakukan penjahitan luka mulai dari bagian yang paling distal dari operator
5.      Khusus pada rupture perineum komplit (hingga anus dan sebagian rectum) dilakukan penjahitan lapis demi lapis dengan bantuan busi pada rectum, sebagai berikut :
Ø  Setelah prosedur aseptik – antiseptik, pasang busi pada rectum hingga ujung robekan
Ø  Mulai penjahitan dari ujung robekan dengan jahitan dan simpul submukosa, menggunakan benang poliglikolik no.2/0(dexon/vicryl) hingga ke sfingter ani. Jepit kedua sfingter ani dengan klem dan jahit dengan benang no.2/0
Ø  Lanjutkan penjahitan kelapisan otot perineum dan submukosa dengan benang yang sama (atau kromik 2/0) secara jelujur o mukosa vagina dan kulit perineum dijahit secara submukosa dan subkutikuler
Ø  Berikan antibiotika profilaksis (ampisilin 2 g dan metronidazole 1 g/oral). Terapi penuh antibiotika hanya diberikan apabila luka tampak kotor atau dibubuhi ramuan tradisional atau terdapat tanda – tanda infeksi yang jelas.
·         Robekan Serviks
1.      Robekkan serviks sering terjadi pada sisi lateral karena serviks yang terjulur akan mengalami robekkan pada posisi spina iscidiadika tertekan oleh kepala bayi
2.      Bila kontrasi uterus baik plasenta lahir lengkap, tetapi terjadi perdarahan banyak maka segera lihat bagian lateral bawah kiri dan kanan dari portio
3.      Jepitkan klem ovarium pada kedua sisi portio yang robek sehingga perdarahan dapat segera dihentikan. Jika setelah eksplorasi lanjutan tidak dijumpai robekkan lain , lakukan penjahitan. Jahitan dimulai dari ujung atas robekan kemuduan ke arah luar sehingga semua robekkan dapat di jahit.
4.      Setelah tindakan, periksa tanda vital pasien, kontrasi uteru, TFU, dan perdarahan pasca tindaka.
5.      Beri antibiotika proflasis, kecuali bila jelas di temui tanda-tandai infeksi
6.      Bila terdapat defisit cairan , lakukan restorasi dan bila kadar Hb kurang dari 8%, berikan transfusi darah. (Nugroho, Taufan. OBSGYN Obstetri dan Ginekologi untuk Kebidanan dan Keperawatan. 2012. Nuha Medika. Yogyakarta)

·         Penatalaksanaan Laserasi Jalan Lahir Menurut (Maryunani, Anik, Puspita, Eka. 2014. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Trans Info Media. Jakarta)
1.      Lakukan pemeriksaan secara hati-hati
2.      Jika terjadi laserasi derajat I atau II lakukan penjahitan dengan anestesi local, dan penerangan lampu yang cukup.
3.      Jika terjadi laserasi derajat III atau IV tu robekkan serviks
a.       Pasang infus dengan menggunakan jarum besar (ukuran 16 atau 18) dengan menggunakan cairan RL atau NS
b.      Segera rujuk ibu kefasilitas dengan kemampuan gawat darurat obstetrik.
c.       Damping ibu ketempat rujuk

F.     YANG TERMASUK LASERASI JALAN LAHIR
a.      Robekkan perenium.
            Robekkan perenium terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekkan perenium umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arccuspubis lebih kecil dari pada biasa sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih ke belakang dari pada ke biasa,kepala janin melewati PAP dengan ukuran yang lebih besar dari pada sirkum ferensia suboccipito-bregmatika, atau anak dilahirkan dengan pembedahan vagina.
b.      Perlukaan/robekkan vagina
            Perlukaan vagina yang tidak berrhubungan dengan luka perenium tidak seberapa sering terdapat. Mungkin ditemukan sesudah persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi dengan cunam, lebih-lebih apabila kepala janin harus diputar. Robekkan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan dengan speculum. Perdarahan biasanya banyak, tetapi mudah diatasi  dengan jahitan.
1.      Kolpaporeksis
      Ialah robekkan melintang atau miring pada bagian atas vagina, Kolpa poreksis juga bisa timbul apabila pada tindakan pervaginam dengan memasukkan tangan penolong kedalam uterus dibuat kesalahan, dan fundus uteri tidak ditahan oleh tangan luar supaya uterus jangan naik keatas.
2.      Fistula
      Akibat pembedahan vaginan makin lama makin jarang karena tindakan vaginal yang sulit untuk melahirkan anak banyak di ganti dengan Sc. Fistula dapat terjadi mendadak karena perlukaan pada vagina yang menembus kandung kemih atau rectum, mis ; karena robekan serviks menjalar ketempat-tempat tersebut.
c.      Robekkan serviks
      Robekkan serviks yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah uterus. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti meskipun plasenta sudah lahir lengkap dan uterus berkontraksi baik. Dan keadaan ini serviks haris diperiksa dengan spekulum, apabila ada robekkan serviks perlu ditarik keluar dengan beberapa cunam ovum, supaya batas antara robekkan dapat dilihat dengan baik. (Prawirohadjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga.  PT Bina Pustaka Sarwono Prawiirohardjo. Jakarta)

CONTOH KASUS LASERASI JALAN LAHIR
PENDOKUMENTASIAN ASUHAN PERSALINAN
DENGAN LASERASI JALAN LAHIR

Kasus :
Seorang ibu berusia 25 tahun baru saja melahirkan anak pertamanya pukul 14.10 WIB secara normal berjenis kelamin laki-laki dengan BB : 3700 gr, TB 50 cm BUGAR. Lalu bidan melakukan suntik oksitosin setelah 2 menit bayi lahir.Plasenta lahir lengkap pada pukul 14.23 WIB, bidan langung melakukan masase selama 15 detik kontraksi baik, TFU 2 jari dibawah pusat ada perdarahan pervagina, bidan melakukan inspeksi pada perinium terdapat laserasi jalan lahir derajat II. Hasil pemeriksaan TTV : TD:130/80 mmHg RR:24 x/i Pols:78 x/i Temp:37,4 C. Ibu mengatakan merasa senang bayi dan plasenta sudah lahir, dan mengatakan perutnya masih merasa mules.

Identitas/ biodata
Nama               : Ny.A                                                 Nama Suami    : Tn. R
Umur               : 25 tahun                                            Umur               : 27 tahun
Suku                : Jawa                                                  Suku                : Minang
Agama             : Islam                                                 Agama             : Islam
Pendidikan      : SMA                                                 Pendidikan      : S1
Pekerjaan         : IRT                                                    Pekerjaan         : Pegawai
Alamat            : Pancur Batu                                      Alamat            : Pancur Batu             

S   :    -Ibu mengatakan merasa bayi dan plasenta sudah lahir,        
- perutnya masih merasa mules
O   :    - Keadaan umum : baik
- vital sign :                
                          TD     : 130/80 mmHg
                          Pols   : 78 kali/menit
                          RR     : 24 kali/menit
                          Temp :  37,40C
- inspeksi perinium : terdapat laserasi jalan lahir derajat II (dari kulit perinium    sampai otot perinium)
- Perdarahan pervagina : ±150 cc
A   :    1. Diagnosa     : ibu G1 P1A0 inpartu kala IV partus normal dengan   laserasi                                               jalan lahir derajat II
                        2. Masalah       : Perdarahan post partum
                        3. Kebutuhan : hecting perinium
P   :    1. Informasikan kepada ibu dan keluarga bahwa saat ini ibu sudah melahirkan                    dengan selamat tetapi terdapat robekan jalan lahir yang disebabkan karena ibu                    tidak mampu tidak bisa berhenti mengejan bayi besar.
                        - ibu dan keluarga sudah mengetahui keadaannya.
2. Mengangkat bayi dari ibu, timbang berat badan bayi BB: 3700 gr, ukupanjang bayi TB : 50 cm, LD : 32 cm, LK : 33 cm, beri salep mata bayi oxytetracyclin, dan menyuntikkan vit K 0,5 cc dipaha kiri bayi, bedong bayi kembali. Berikan bayi kepada keluarga karna akan dilakukan penjahitan perineum pada ibu.                                            
- Bayi telah dibersihkan, ditimbang, diukur panjang, lingkar dada, lingkar kepala, dan telah diberikan salep mata, dan  Vit K. Bayi telah diberikan kepada keluarga.
3. Memberitahu ibu akan disuntikkan anastesi untuk menetlalisir rasa sakit karena akan dilakukan penjahitan pada perineum ibu.
- ibu sudah disuntikkan anastesi ( Lidokain 10 IU) dan bersedia dilakukan penjahitan pada perineum.
4. Melakukan penjahitan perineum dengan jahitan jelujur.
- perineum ibu sudah dijahit.
5. Memberikan ibu nutrisi dan cairan
- ibu menghabiskan 1 gelas teh manis hangat.
6. membersihkan ibu agar ibu merasa nyaman.
- ibu sudah dibersihkan, dan ibu sudah meras nyaman.
7. Mengobservasi keadaan umum, TFU, kontraksi, kandung kemih, perdarahan, dan TTV setiap 15 menit sekali dalam 1 jam pertama dan 30 menit sekali dalam 1 jam kedua.
- Bidan akan melakukan observasi.
8. Memberikan ibu terapi obat amoxilin 500 mg (3x1), SF (1x1), di minum setelah makan sesuai aturan untuk menunjang proses penyembuhan ibu.
- ibu telah mendapat terapi obat.
9. Memberitahukan ibu untuk selalu menjaga kebersihan vagina ibu dan menjaga agar selalu dalam keadaan ibu dalam keadaan kering. Segera ganti celana dalam jika terasa lembab atau basah agar tidak terjadi infeksi pada luka jahitan.
- ibu telah mengerti dan akan melaksanakan anjuran bidan.
                                                                             



BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
            Persalinan sering kali mengakibatkan perlukaan jalan lahir. Luka – luka biasanya ringan, tetapi kadang – kadang terjadi juga luka yang luas dan berbahaya. Setelah harus persalinan harus selalu dilakukan pemeriksaan vulva dan perineum. Pemeriksaan vagina dan serviks dengan spekulum perlu dilakukan setelah pembedahan pervaginam. Robekan jalan lahir adalah trauma yang diakibatkan oleh kelahiran bayi yang terjadi pada serviks, vagina, atau perineum.




DAFTAR PUSTAKA
(Prawirohadjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga.  PT Bina Pustaka Sarwono Prawiirohardjo. Jakarta)
(Maryunani, Anik, Puspita, Eka. 2014. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Trans Info Media. Jakarta)
(Nugroho, Taufan. OBSGYN Obstetri dan Ginekologi untuk Kebidanan dan Keperawatan. 2012. Nuha Medika. Yogyakarta)
(Prawirohadjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan Edisi Keempat.  PT Bina Pustaka Sarwono Prawiirohardjo. Jakarta)
(Oxorn, Harry, R.Forte, William. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi & Fisiologi Persalinan. CV Andi Offset. Yogyakarta)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar