Senin, 09 Mei 2016

ABORTUS KOMPLIT


A.    Definisi  Abortus

Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin mampu bertahan hidup (Cunningham, 2006).
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan (Saifuddin).
Keguguran atau abortus adalah terhentinya proses kehamilan yang sedang berlangsung sebelum mencapai umur 28 minggu atau berat janin sekitar 500 gram (Manuaba, 2007).
Abortus adalah suatu usaha mengakhiri kehamilan dengan mengeluarkan hasil pembuahan secara paksa sebelum janin mampu bertahan hidup jika dilahirkan (Varney, 2007).

B.     Definisi  Abortus Komplitus

Perdarahan pada kehamilan muda dimana seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan dari kavum uteri (Saifuddin, 2006).
Abortus komplitus merupakan abortus spontan yang tidak dapat dihindari. Abortus kompletus ( keguguran lengkap ) adalah abortus yang hasil konsepsi (desidua dan fetus) keluar seluruhnya sebelum usia kehamilan 20 minggu. Ciri terjadinya abortus kompitus adalah: perdarahan pervaginam, kontraksi uterus, ostium serviks sudah menutup, ada keluar jaringan, tidak ada sisa dalam uterus, uterus telah mengecil. Diagnosis komplet ditegakkan bila jaringan yang keluar juga diperiksa kelengkapannya.
Untuk memastikan rahim sudah bersih atau belum bisa dilakukan dengan pemeriksaan USG oleh dokter Spesialis Obstetri  dan Ginekologi. Tidak memerlukan penanganan khusus apabila rahim sudah bersih. Hanya saja pendarahan yang banyak bisa menimbulkan anemia atau kehilangnan haemoglobin dalam jumlah besar sehingga diperlukan tranfusi darah. Kalau hanya menderita anemia ringan saja, perlu diberikan tablet besi dan dianjurkan supaya makan makanan yang mengandung banyak protein, vitamin dan mineral.
Penanganan spesifik Abortus Komplit:
§  Apabila kondisi pasien baik, cukup diberi tablet ergometrin 3×1 tablet/hari untuk 3-5 hari.
§  Apabila pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet sulfas ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu disertai dengan anjuran mengkonsumsi makanan bergizi. Untuk anemia berat berikan transfuse darah.
§  Apabila tidak terdapat tanda-tanda infeksi tidak perlu diberi antibiotika, atau apabila khawatir akan infeksi dapat diberi antibiotik profilaksis.
§  Anjurkan pasien untuk diet tinggi protein,vitamin dan mineral.
§  Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau transfusi darah 
§  Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak.
§  Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.
§  Kirimkan hasil konsepsi untuk pemeriksaan patologi (adanya hasil konsepsi,membuktikan bahwa bukan mola, kehamilan ektopik, dan sebagainya)
§  Kuretase tidak diperlukan
§  Erogonovin atau metilergonovin maleat diberikan tiga kali sehari dengan dosis 0,2 mg per oral selama tiga hari, dapat membantu kontraksi uterus

C.    ETIOLOGI
Faktor yang memnyebabkan kematian fetus adalah faktor ovum sendiri, faktor ibu dan faktor bapak.
§  Kelainan ovum
Pada ovum abnormal 6% diantaranya terdapat degenerasi hidatid vilu. Abortus spontan yang disebabkan oleh karena kelainan dari ovum berkurang kemungkinan kalau kehamilan sudah lebih dari 1 bulan, artinya makin muda kehamilan saat terjadinya abortus makin besar kemungkinan disebabkan oleh kelainan ovum.
Penemuan morfologis yang paling sering terjadi dalam abortus dini spontan adalah abnormalitas dalam perkembangan zigot, embrio fase awal janin, atau kadang-kadang plasenta.Perkembangan janin yang abnormal, khususnya dalam trimester pertama kehamilan, dapat diklasifikasikan menjadi perkembangan janin dengan kromosom yang jumlahnya abnormal (aneuploidi) atau perkembangan janin dengan komponen kromosom yang normal (euploidi).
Abnormalitas kromosom sering terjadi di antara embrio dan janin fase awal yang mengalami abortus spontan serta menjadi sejumlah besar atau sebagian besar kehamilan awal yang sia-sia.Penelitian menyebutkan bahwa 50 – 60 % dari abortus dini spontan berhubungan dengan anomali kromosom pada saat konsepsi.
Menurut Hertig dkk pertumbuhan abnormal dari fetus sering menyebabkan abortus spontan. Menurut penyelidikan mereka, dari 1000 abortus spontan, maka 48,9 % disebabkan oleh ovum yang patologis (Mochtar,1998).Dua keadaan yang mungkin menjadi penyebab terjadinya abortus diatas : (1) abnormalitas genetik (2) sejumlah kasus maternal.
§  Pengaruh endokrin
Kenaikan insiden abortus bisa disebabkan oleh hipertiroidisme, diabetes mellitus, dan defisiensi progesteron. Defisiensi progesteron karena kurangnya sekresi hormon tersebut dari korpus luteum atau plasenta, mempunyai kaitan dengan insiden abortus. Karena progesteron berfungsi mempertahankan desidua, defisiensi hormon tersebut secara teoritis akan mengganggu nutrisi pada hasil konsepsi dan berperan dalam peristiwa kematian janin.
§  Faktor imunologi
Ada dua mekanisme utama pada abnormalitas imunologis yang berhubungan dengan abortus, yaitu : mekanisme alloimun dan mekanisme autoimun. Mekanisme autoimun adalah mekanisme timbulnya reaksi seluler atau humoral yang ditujukan kepada suatu lokasi spesifik dalam tubuh hospes. Alogenitas digunakan untuk menjelaskan ketidaksamaan genetik antar binatang dari spesies yang sama. Janin manusia merupakan cangkokan alogenik yang diterima dengan baik oleh tubuh ibu berdasarkan alasan yang tidak diketahui secara lengkap. Beberapa mekanisme imunologi dilaporkan bekerja untuk mencegah penolakan janin. Mekanisme tersebut mencakup faktor histokompatibilitas, faktor penghambat sirkulasi, faktor supressor lokal dan antibodi antileukositotoksik maternal atau anti paternal. Tidak adanya atau tidak disintesisnya salah satu faktor diatas oleh tubuh ibu menyebabkan terjadinya reaksi imun maternal abnormal yang berbalik melawan antigen dalam plasenta atau dalam jaringan janin lainnya dan mengakibatkan abortus.
§  Gamet yang menua
Baik umur sperma atau ovum dapat mempengaruhi angka insiden abortus spontan. Gamet yang bertambah tua dalam traktus genitalis wanita sebelum fertilisasi, dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya abortus.
§  Kelainan genetalia ibu
·         Anomali congenital (hipoplasia uteri, uterus bikornus, dll)
·         Kelainan letak dari uterus seperti retrafleksi uteri fiksata.
·         Tidak sempurnanya persiapan uterus menanti nidasi yang telah dibuahi.
·         Uterus terlalu cepat teregang (ada, kehamilan ganda).
·         Distorsio uterus
§  Gangguan sirkulasi plasenta
Dijumpai pada ibu yang menderita penyakit refatis, hipertensi, hoksemia gravidarum, anomaly plasenta, dan endarteritis oleh lues.
§  Penyakit-penyakit ibu
Misalnya pada :
·         Penyakit Infeksi yang memnyebabkan demam tinggi seperti pneumonia, tifoid, pielitis, rubeola, demam malta, dsb. Kematian fetus dapat disebabkan karena toksin dari ibu/ invasi kuman/ virus pada fetus.
·         Keracunan nikotin, gas racun, alcohol, dll.
·         Ibu yang arfiksia pada dekompensasi kordis, penyakit paru berat, anemi gravis.
·         Malnutrisi, avitaminosis dan gangguan metabolisme, hipotiroid, kekurangan vitamin A, C, atau E, diabetes melitus.

§  Antagonis Rhesus
Pada antagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fesus, sehingga terjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus.
§  Terlalu cepatnya korpus luteum menjadi atrafis; / faktor serviks yaitu inkompetensi serviks, servisitis.
§  Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi umpamanya : sangat terkejut, obat-obatan uterotonika, ketakutan, laparotomi, dll.
§  Penyakit Bapak : umur lanjut, penyakit kronis seperti : TBC, anemi, dekompensasis kordis, malnutrisi, nefritis, sifilis, keracunan (alcohol, nikotin dll) sinar roentgen, avitaminosis.



D.    ASUHAN KEBIDANAN YANG DIPERLUKAN
1.      penegakan diagnosis
§  Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.
§  Pada pemeriksaan fisik: keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
§  Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi
§  Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus

2.      pemeriksaan ginekologi :
§  Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada/ tidak  jaringan hasil konsepsi, tercium/tidak bau busuk dari vulva 
§  Inspekulo: perdarahan dari cavum uteri, ostium uteri terbuka/ sudah tertutup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
§  Colok vagina: porio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porssio di goyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum douglashi, tidak menonjol dan tidak nyeri.
§   Tes kehamilan: positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus.
§  Pemeriksaan Doppler atau usguntuk menentukan apakah janin masih hidup.
§  Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

3.      Manifestasi klinis
§  Semua hasil konsepsi telah dikeluarkan
§  Ostium uteri telah menutup
§  Uterus sudah mengecil sehingga perdarahan sedikit

§  Besar uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan.


TINJAUAN KASUS
I.                   PENGKAJIAN
·         Identitas / Biodata
Nama                    : Ny. Q                                                Nama Suami    : Tn. R
Umur                    : 32 tahun                                Umur               : 36 tahun
Suku                     : Minang                                  Suku                : Mandailing
Agama                  : Islam                                     Agama             : Islam
Pendidikan           : SMA                                     Pendidikan      : D-3 komputer
Pekerjaan              : IRT                                        Pekerjaan         : Pegawai swasta
Alamat                 : Jl. Pahlawan                          Alamat                        : Jl. Pahlawan
No. HP                 : 082360871749                      No. HP            : 0813746146112

A.    ANAMNESA
Tanggal           : 22 Maret 2016                                   Pukul               : 09.45 WIB
1.    Alasan kunjungan   : Ingin memeriksakan kehamilannya
2.    Keluhan utama       : Ibu mengatakan perutnya mulas, nyeri pada pinggang dan
  adanya keluar gumpalan darah dari kemaluannya sejak pukul 07.15 WIB
3.     Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit asma, tumor, TBC, dan penyakit kelamin.
4.     Riwayat kesehatan sekarang
Ibu mengatakan tidak menderita penyakit asma, TBC, penyakit kelamin dan tumor.
5.    Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti asma, kencing manis, paru-paru, penyakit kelamin, keturunan kembar.
6.    Riwayat perkawinan
Umur nikah         : 20 tahun
Lama                   : 12 tahun
7.    Riwayat Haid
Menarche             : 15 tahun
Siklus               :    28 hari
Lama                :    6-7 hari
Disminorrhoe   :    -
Warna/ bau      :    merah segar, bau anyir
8.    Riwayat kehamilan sekarang
HPHT             : 12 – 12 – 2015
TTP                 : 19 – 09 – 2016
9.    Riwayat kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu

N0.
Tgl lahir/ Umur
UK
Jenis Persalinan
Tempat persalinan
Komplikasi
Penolong
BBL
Nifas
Ibu
Bayi
BB
TB
Lactasi
Keadaan
1.
H
A
M
I
L

I
N
I



B.     DATA OBJEKTIF
1.     Pemeriksaan umum
KU              :  lemah
Kesadaran   :  composmentis
TTV            :  TD             : 100/80 mmHg
                      Pols            : 96 x/ menit
                      Temp         : 36,5 ° C
                      RR             : 20 x / menit
                      BB sebelum hamil  : 47 kg/ 48 kg
                      TB               : 158 cm
TTP                 : 19 – 08 – 2016
2.      Pemeriksaan Fisik
a.       Inspeksi
-  Kepala   :  simetris, tidak ada benjolan abnormal, rambut tidak rontok, bersih tidak berketombe
-  Wajah    :  simetris, pucat, tidak ada chloasma gravidarum
-  Mata      :  simetris, sklera tidak ikterus, conjungtiva merah muda.
- Hidung   :  simetris, tidak ada polip, tidak ada pernapasan cuping hidung, tidak ada pengeluaran sekret.
- Telinga   :  simetris, tidak ada serumen dan benda asing
-  Mulut     :  simetris, mukosa bibir tidak kering, tidak ada caries gigi.
-  Leher     :  tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kelenjar limfe dan vena jugularis
- Dada     :  payudara simetris, putting susu menonjol, payudara bersih, tidak ada benjolan abnormal.
- Perut       :  bersih, datar, tidak ada benjolan abnormal, tidak ada bekas operasi.
-  Genetalia    :  tidak ada varises, tidak ada oedema, tampak darah, tidak berbau
- Anus       :  tidak ada hemmoroid
-  Ekstremitas :  simetris, gerakan normal, tidak oedem, tidak ada varises
b.      Palpasi
-          Payudara     :  kenyal, tidak ada benjolan abnormal, tidak nyeri tekan
-          Perut           :  tidak teraba adanya benjolan abnormal, nyeri tekan pada bagian atas sympisis.
-          Ekstremitas :  tidak oedem, tidak varises.
c.       Auskultasi
-          Abdomen    :  bising usus positif, normal 16-20 x / menit
-          DJJ               :  Dopler negatif
d.      Perkusi
-          Abdomen    :  tidak kembung
-          Tungkai       :  reflek patella kanan/ kiri positif
e.       Pemeriksaan Penunjang
      Plano tes : positif
f.       Pemeriksaan Dalam (dilakukan oleh bidan)
     Ostium uteri telah menutup, gumpalan yang telah keluar merupakan hasil konsepsi/jaringan janin yang lengkap dengan selaputnya.

II.                IDENTIFIKASI DIAGNOSA MASALAH DAN KEBUTUHAN
1.      Diagnosa   : Ny. Q G1P0A0, UK 14 minggu 2 hari dengan abortus kompletus
Data Dasar
Data Subjektif
-          Ibu mengatakan perutnya mulas, nyeri pada pinggang dan  adanya keluar gumpalan darah dari kemaluannya sejak pukul 07.15 WIB
Data Objektif
-          KU ibu   :    lemah
-          Kesadaran :    composmentis
-          TD  :    100/80 mmHg
-          Suhu :    36,5 °C, RR    :    20 x / menit
Pemeriksaan Dalam (dilakukan oleh bidan)
-          Ostium uteri telah menutup, gumpalan yang telah keluar merupakan hasil konsepsi/jaringan janin yang lengkap dengan selaputnya.
2.    Masalah
     Terjadinya perdarahan

3.    Kebutuhan
-          Lakukan konseling untuk mencegah terjadinya infeksi
-          Berikan obat – obatan

III.             IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL
Potensial terjadinya perdarahan
Data Subjektif       : -
Data Objektif        :
-          Darah yang keluar ± 30-50 cc
-             TTV :
-          TD     : 100/80 mmHg
-          Nadi  : 64 x / menit
-          RR     : 20  x / menit
-          Suhu  :  36, 5°C

IV.             IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA / KOLABORASI
1.    Observasi keadaan pasien
2.    Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian teraphy
3.    Motivasi ibu agar tetap tenang
4.    konseling untuk mencegah terjadinya infeksi

V.                PERENCANAAN
1.    Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2.    Lakukan informed choice dan consent untuk kolaborasi dengan dokter Obgin untuk pemberian teraphy
3.    Konseling untuk mencegah terjadinya infeksi
4.    Lakukan dokumentasi

VI.             PELAKSANAAN
1.    Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa KU ibu : lemah
-          TD     : 100/80 mmHg
-          Nadi  : 64 x / menit
-          RR     : 20 x / menit
-          Suhu  :  36, 5 °C
-          Darah yang keluar ± 20-30 cc/menit
2.    Melakukan informed choice dan consent kepada pasien untuk dilakukan kolaborasi dengan dokter Obgin untuk pemberian teraphy
3.    Memberikan konseling untuk pencegahan infeksi
-          Perawatan diri selama masa pasca-abortus diperlukan untuk memperbaiki kondisi, mencegah terjadinya infeksi dengan meningkatkan personal hygiene dan makanan diet tinggi protein,vitamin dan mineral.
4.    Melakukan dokumentasi

VII.          EVALUASI
1.    Ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaannya
2.    Ibu sudah menyetujui dan menandatangani informed choice dan consent dan bersedia dilakukan kolaborasi dengan dokter Obgin untuk pemberian teraphy. Dan teraphy telah diberikan
-          ergometrin 3 x 1 tablet selama 3 – 5 hari
-          Erogonovin atau metilergonovin maleat 3 x 1 tablet dengan dosis 0,2 mg per oral selama tiga hari, dapat membantu kontraksi uterus
3.    Ibu sudah mengerti dan mampu mengulang apa yang telah di sampaikan oleh bidan
4.    Dokumentasi telas dilakukan